Rohil,zadanews.com -- Pembangunan Masjid Laksamana Muhammad Cheng Ho di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, yang dirancang menjadi pusat wisata religi dan kebudayaan, belum menunjukkan perkembangan berarti meski tujuh tahun telah berlalu sejak pemancangan tiang pertama pada Juni 2019.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan masyarakat mengenai kepastian kelanjutan proyek yang sejak awal diproyeksikan menjadi salah satu ikon daerah sekaligus memperkuat daya tarik wisata religi di Provinsi Riau.
Masjid yang direncanakan berdiri di kawasan Pujasera Bagansiapiapi itu memadukan konsep arsitektur Melayu dan Tionghoa. Rancangannya tidak hanya mencakup bangunan utama sebagai tempat ibadah, tetapi juga kawasan terpadu yang menggabungkan fungsi keagamaan, pendidikan, dan kebudayaan.
Pemancangan tiang pertama dilakukan pada Rabu (19/6/2019) oleh Syamsuar, yang ketika itu menjabat Gubernur Riau. Pada saat itu, pembangunan Masjid Cheng Ho diharapkan dapat menjadi ikon baru Riau sekaligus destinasi wisata religi yang memperkuat identitas Kabupaten Rokan Hilir.
Namun, hingga Oktober 2026, kelanjutan pembangunan tersebut masih menjadi perhatian masyarakat. Belum adanya perkembangan berarti membuat kepastian mengenai tahapan pengerjaan berikutnya menjadi hal yang dinantikan.
Berdasarkan konsep awal, Masjid Laksamana Muhammad Cheng Ho direncanakan berdiri di atas lahan sekitar dua hektare dengan konstruksi dua lantai. Salah satu ciri khas desainnya adalah rencana pembangunan seribu kubah yang merepresentasikan julukan Rokan Hilir sebagai Negeri Seribu Kubah.
Kompleks tersebut juga direncanakan dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung, antara lain miniatur tradisi Bakar Tongkang, pusat kajian Al-Qur'an, Islamic Center, gedung Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), taman bermain, gedung pertemuan, serta dua menara.
Ketua Yayasan Fastabiqul Khairat Rohil, Surya Arfan, sebelumnya menyampaikan bahwa menara masjid direncanakan memiliki ketinggian sekitar 25 meter dengan 17 tingkat.
Dengan konsep tersebut, pembangunan Masjid Cheng Ho sejak awal tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah, tetapi juga dikembangkan sebagai kawasan yang dapat menunjang kegiatan pendidikan Islam, pelestarian budaya, dan pariwisata.
Perpaduan unsur Melayu dan Tionghoa dalam desain bangunan juga mencerminkan potensi keberagaman budaya Bagansiapiapi yang dapat diangkat sebagai bagian dari daya tarik daerah.
Di tengah besarnya rencana pengembangan kawasan tersebut, masyarakat kini menantikan penjelasan mengenai status terkini proyek, termasuk kepastian kelanjutan pembangunan, skema pendanaan, serta tahapan pengerjaan yang akan dilakukan.
Seorang warga Bagansiapiapi, Arif, mempertanyakan kepastian realisasi proyek yang telah dimulai sejak 2019 tersebut.
"Apakah pembangunan akan dilanjutkan? Jika dilanjutkan, kapan? Dan seperti apa skema serta tahapan pembangunan berikutnya?" kata Arif, Rabu (7/10/2026).
Menurut dia, kejelasan dari pihak-pihak terkait diperlukan agar masyarakat memperoleh gambaran mengenai masa depan proyek yang sejak awal diharapkan memberikan manfaat bagi daerah.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat menyampaikan perkembangan terbaru sekaligus menjelaskan langkah konkret untuk memastikan keberlanjutan pembangunan. (Red).
